Cerpen Kami
Assalamu'alaikum Wr. Wb teman-teman. Ingat! Harus dijawab.
Nama Kelompok:
1.
Amanda
Illona Farrel (07)
2.
Arkan
Pramadhan Rulli S. (08)
3.
Dafa
Aryaputra Ramadhan (10)
4.
Nazwa
Anindya Putri (25)
Api dalam Hati
Pada siang bolong,
lagi-lagi seorang pemuda telah melakukan kejahatan. Pemuda itu bernama Danang. Ia memang sudah berulang kali berurusan dengan
polisi. Namun, saat itu ia bisa meloloskan diri. Ia bersembunyi di sebuah
apartemen saudaranya. Kebetulan saudara Danang sedang tak berada di rumah. Ia dapat masuk ke apartemen karena sempat menggandakan kunci
apartemen milik saudaranya.
Tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu apartemen dengan sangat keras. Danang melangkah menuju jendela.
Ternyata setelah dilihat, ada dua orang polisi yang sedang mencari dirinya. Ia kebingungan. Polisi tersebut mendobrak pintu apartemen dan berhasil
masuk. “Kami dari kepolisian akan memborgol anda!” ucap salah satu
polisi. Entah harus bagaimana lagi, Danang pasrah atas kejadian yang tak
terduga. Namun, saat itu juga ada seseorang dari pengadilan datang ke apartemen
itu. “Hakim Nanang, saatnya memimpin persidangan!” ujar seseorang itu dengan
tegas. Polisi tersebut sangat malu karena salah tangkap orang. Yang mereka
tangkap adalah hakim. Padahal, yang mereka tangkap sudah benar-benar Danang.
Polisi tersebut sempat mengira bahwa mereka kembar. “Tunjukkan kartu nama anda,
Hakim Nanang!” ucap seseorang itu. Kemudian Danang mencari kartu nama
saudaranya dan berfikir bahwa ini merupakan peluang bagi dirinya. Lalu, polisi
tersebut meminta maaf kepada mereka dan pergi meninggalkan apartemen.
Saudara Danang
yang bernama Nanang berprofesi sebagai hakim. Sedangkan Danang hanya bisa
menjadi pengangguran dan selalu berbuat kejahatan. Mereka berdua memang kembar. Tetapi,
hubungan di antara mereka sangatlah kacau balau. Bukan hanya hubungan,
kehidupan mereka pun juga jauh berbeda.
Saat
mereka berada di bangku SMA, Nanang dikeroyok masal oleh teman-temannya di
gudang sekolah. Waktu itu, Danang melihat saudara kembarnya. Kemudian ia
bergegas menyelamatkan Nanang. Di ujung pintu, ada guru yang melihat mereka
berkelahi. Guru tersebut membawa mereka ke ruang kepala sekolah. Namun, Nanang
mengatakan bahwa Dananglah yang memulai perkelahian. Selain kejadian itu, ibu
mereka selalu membela Nanang dan selalu ingin memutuskan hubungan keluarga dengan
Danang. Walaupun hati Danang hancur berkeping-keping, ia tetap menyayangi
ibunya dengan sepenuh hati.
Bagi
Danang, Nanang merupakan orang yang tak mau membagi ilmunya kepada orang lain
dan tak mau bergaul. Sebenarnya, Danang juga ingin menjadi hakim. Sehingga ia
terkadang secara diam-diam membaca buku tentang
hukum di
perpustakaan apartemen saudaranya.
“Kasus
hari ini di tutup!” kalimat pemutusan terakhir Danang. Untungnya Danang bisa
memimpin persidangan dan memecahkan solusi dengan baik. Walaupun sebenarnya ia
tak percaya diri juga. Tak ada satu orang pun yang mencurigai tingkah Danang.
Persidangan telah selesai.
“Setelah
ini saya harus pergi kemana? Bagaimana jika mereka mengetahui semuanya?
Eitss... Tunggu dulu, tadi saya sangat keren menjadi hakim,” ujar Danang
dengan penuh kebingungan dan sangat percaya diri.
Lalu, Ia
memutuskan untuk bergegas menuju rumah ibunya. Saat melewati lobi, ia bertemu
dengan Nanang. Nanang yang semulanya tak tahu apa pun tentang kekerasan, kini
ia berani memukuli Danang. Sebelumnya, Nanang mendapatkan laporan dari
asistennya, “Hakim, anda tadi sangat keren
dalam memimpin persidangan,” Ia pun bingung dan berkata, “Saya tadi masih ada urusan di universitas dan
hari ini, saya juga belum mendatangi ruang sidang apapun,” Kemudian, semua
orang di sekitar lobi terkejut, “Hakim Nanang punya saudara kembar? Katanya beliau hanya anak tunggal,” gosib orang-orang sekitar.
Ibu
mereka di rumah mendapat telfon dari pengadilan. Kemudian, ibu mereka tiba di
lobi dan melerai anak-anaknya. Syukur saat itu juga tak ada yang berani
melaporkan ke polisi. Karena, menurut orang-orang di pengadilan tersebut, masalah
mereka dapat diselesaikan secara baik-baik. “Apa yang terjadi pada mu nak, Nanang?” ucap
ibu dengan kebingungan. Namun, Danang langsung pergi meninggalkan ibu dan saudara kembarnya. Ia sangat marah
ketika ibunya hanya bertanya pada nanang.
1 tahun
telah beralu, setelah kejadian pertengkaran antara Danang dengan Nanang, Danang tak
kembali ke rumah. Namun, bukan berarti ia membenci ibunya. Tapi, Danang belajar
memasak untuk mendapatkan lisensi yang nanti ingin ia tunjukkan pada
ibunya. Di tahun itu pula, ia banyak merenungkan kejahatan-kejahatan yang diperbuat
olehnya. Ia juga ingin menunjukkan bahwa preman pun bisa sukses. Namun dengan
melalui proses yang positif.
Rintihan
hujan di malam hari, membuat Danang merindukan ibunya. Ia pun memutuskan bahwa besok pagi akan
datang ke rumah ibunya.
Mentari
menyambut alam semesta. Danang mengendarai
mobil untuk ke rumah
ibunya. Tak lupa pula ia membawa masakan buatannya untuk ibunya. Sesampainya di
rumah, ibunya tetap saja memasang sikap acuh terhadap danang. Danang tak peduli
juga. Kemudian ia memberi tahu ibunya bahwa ia juga sehebat saudara
kembarannya. Ibunya menangis atas semua sikapnya yang sangat tak adil pada
anaknya. Lalu, Danang memeluk ibu. Ibu berpesan “Anakku, sebelum ibu tiada, ibu
ingin berjalan bertiga dengan anak kembar ibu. Disaat melihat ke kanan ibu dapat melihat dirimu
dan saat melihat ke kiri ibu dapat melihat saudaramu,”
Kedamaian sedikit demi sedikit terwujudkan. Namun, tetap saja
Danang masih belum bisa akur dengan saudara kembarnya. Danang pun sekarang
sudah dapat membuka restoran yang sangat terkenal. Sedangkan Nanang, ia dipecat
dari pekerjaannya karena suatu kesalahan dan tak mau berusaha lagi untuk
menetapkan status hakimnya.
Wa'alaikumsalam Wr. Wb. kasih aku komentar kalian ya! :)
Uwehhh :v
BalasHapusHai teman! terimakasih telah bergabung dengan blog aku...
Hapus